X

Tetap Sehat di Dalam Pandemi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat melakukan kunjungan kerja di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (12/6/2021).(Dok. Kementerian BUMN)

hancau – Menghadapi makin rumitnya tantangan untuk tetap sehat, semoga kita diberi kekuatan, ketekunan, dan kesabaran.

Kekuatan, ketekunan, dan kesabaran agar terus bisa berupaya baik di tengah keterbatasan dan ketidakpastian yang tinggi.

Ketika segala sesuatu tidak pasti, teruslah berbuat baik. Kebaikan adalah kunci keselamatan jiwa dan raga. Demikian kebijaksanaan kuno yang meneguhkan dan menurut saya tepat.

Kebijaksanaan kuno yang bersumber dari tradisi Budhis ini saya jumpai dari tulisan seorang teman yang tengah jatuh cinta pada Bali dan keheningannya.

Oya, Minggu (25/7/2021) lalu, pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali.

Meskipun diperpanjang sampai 2 Agustus 2021, tidak lagi ada istilah darurat yang dilekatkan. Karena perbedaan kondisi nyata masing-masing provinsi, kabupaten, dan kota, pemerintah memilih mengunakan istilah level 1-4 sesuai kegentingannya.

Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan terkait penerapan PPKM di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (25/7/2021). Presiden Joko Widodo memutuskan untuk melanjutkan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 dari 26 Juli hingga 2 Agustus 2021 dengan beberapa penyesuaian terkait aktivitas dan mobilitas masyarakat yang dilakukan secara bertahap. ANTARA FOTO/Biro Pers – Setpres/hma/rwa(BIRO PERS SETPRES/Hafidz Mubarak A)

Dari data pemerintah, secara nasional memang terjadi tren penurunan angka kasus positif Covid-19 seminggu terakhir dibandingkan seminggu sebelumnya.

Keterisian rumah sakit secara nasional juga mengalami penurunan setelah sebelumnya melonjak tajam hingga tidak mampu menampung.

Karena tren belum cukup meyakinkan lantaran sejumlah catatan, mendengarkan masukan pihak-pihak yang terdampak, dan mempertimbangkan kondisi di lapangan, pemerintah memperpanjang PPKM dengan sejumlah penyesuaian.

Sebagai gambaran, Senin (26/7/2021), ada penambahan 28.228 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Angka ini menyumbang total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 3.194.733 orang, terhitung sejak 2 Maret 2020.

Meskipun ada penambahan 40.374 pasien sembuh akibat Covid-19 yang membuat jumlah pasien Covid-19 yang sembuh di Indonesia saat ini mencapai 2.549.692 orang, angka kematian masih tinggi.

Pada periode 25-26 Juli 2021, ada 1.487 pasien Covid-19 meninggal dunia. Sejak pandemi, ada 84.766 orang meninggal dunia karena Covid-19.

Melihat ancaman yang masih tinggi ini, semoga kamu tetap disipilin menerapkan protokol kesehatan untuk melindungi diri dan orang lain. Disiplin ini semoga menjadi hal yang makin ringan dilakukan.

Lantaran belum terkendalinya situasi sampai tenggat waktu yang ditetapkan, pemerintah kemudian meminta maaf.

Permintaan maaf itu dimulai dari Luhut Binsar Pandjaitan, orang kepercayaan Presiden Joko Widodo di segala cuaca.

Sebagai yang dipercaya menjadi Koordinator PPKM darurat Jawa-Bali, Luhut meminta maaf karena belum maksimalnya penanganan PPKM Jawa-Bali.

Sebelumnya, Luhut membuat pernyataan bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia terkendali di tengah kasus yang terus melonjak.

Pernyataan tersebut memancing kritik dan kemarahan publik yang mendapati kenyataan yang bertentangan dengan pernyataan pemerintah.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat melakukan kunjungan kerja di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (12/6/2021).(Dok. Kementerian BUMN)

Setelah itu, Menteri BUMN Erick Thohir juga meminta kepada seluruh rakyat Indonesia terkait penanganan Covid-19 yang belum sempurna.

Erick menjelaskan, dengan kekuatan yang dimiliki, pemerintah bersama semua pihak terus bekerja sekeras-kerasnya.

Sebuah langkah yang baik untuk merespons psikologi masyarakat yang mendapati dampak langsung pandemi. Meminta maaf.

Lewat mata dan kepala sendiri, kita merasakan kesulitan mengakses layanan kesehatan saat mendapati diri sendiri, anggota keluarga atau kerabat kita sakit. Kabar duka juga makin dekat menghampiri.

Kerendahan hati dengan meminta maaf lantaran pandemi belum terkendali memang tidak mengubah fakta dampak pandemi yang nyata.

Namun, sikap itu meredakan emosi publik dan bisa jadi pijakan pemerintah melakukan sejumlah evaluasi dan perbaikan.

Kita mendapati, setelah permintaan maaf itu, sejumlah perubahan dilakukan dengan lebih baik. Kritik dan saran didengarkan karena adanya sikap rendah hati yang mendasari permintaan maaf.

Related Post

Ada yang mengkritik permintaan maaf pejabat pemerintah itu tidak tulus. Tapi sudahlah. Pesan kepada pemerintah lewat sejumlah kritik sudah sampai dan kita melihat ada perbaikan meskipun belum sepenuhnya.

Selebrasi lifter Indonesia Eko Yuli Irawan sesuai meraih medali perak kelas 61 kg putra Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Minggu (25/7/2021). Eko Yuli berhasil mempersembahkan medali perak dengan total angkatan 302 kg.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Oya, soal permintaan maaf, kita dapat contoh luar biasa dari standar tinggi atlet agkat besi kebanggan Indonesia, Eko Yuli Irawan.

Menyumbangkan medali perak di Olimpiade Tokyo 2020 yang membuat Indonesia dipandang di ajang Olimpiade, Eko Yuli meminta maaf karena belum bisa mempersembahkan medali emas.

Permintaan maaf itu disampaikan Eko Yuli saat dihubungi Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali usai pertandingan di Tokyo International Forum, Minggu (25/7/2021).

Mewakili Indonesia, Eko Yuli berkompetisi di cabang olahraga angkat besi kelas 61 kg putra. Lifter berusia 32 tahun itu menempati peringkat kedua dengan total angkatan 302 kg.

Eko Yuli mencapai angkatan snatch terbaik dengan beban 137 kg, sedangkan di angkatan clean & jerk dia mencapai 165 kg.

Dia hanya kalah dari lifter unggulan asal China, Li Fabin, yang mencatat total angkatan 313 kg dan meraih emas. Medali perunggu diraih Igor Son dari Kazakhstan dengan total angkatan 294 kg.

Perak Eko Yuli menambah perolehan medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020.

Sebelumnya, medali pertama Indonesia juga lahir dari angkat besi melalui lifter Windy Cantika Aisah. Windy Cantika meraih perunggu di kelas 49 kg putri.

Foto yang diambil dengan kamera robot ini memperlihatkan reaksi Windy Cantika Aisah dari Indonesia saat bertanding di cabang olahraga angkat besi 49kg putri Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum di Tokyo pada Sabtu 24 Juli 2021. Berikut ini klasemen medali Olimpiade Tokyo.(CHRIS GRAYTHEN)

Capaian Eko Yuli di Tokyo melanjutkan tradisinya meraih medali di ajang Olimpiade sejak 2008 di Beijing saat meraih perunggu. Di London 2012, Eko Yuli juga meraih perunggu. Perak diraih Eko Yuli di Rio 2016.

Dengan empat medali, Eko Yuli menjadi atlet Indonesia dengan koleksi medali Olimpiade terbanyak sepanjang sejarah.

Catatan Eko Yuli menggeser rekor jumlah medalinya yang diarih legenda angkat besi putri Indonesia, Raema Lisa Rumbewas yang meraih tiga medali Olimpiade pada periode 2000-2008.

Dengan semua capaian yang membanggakan itu, Eko Yuli meminta maaf.

Tidak hanya lewat kata-kata, tetapi dari bahasa tubuh usai gagal mengangkat barbel yang membuatnya memperoleh medali perak.

Sebuah standar tinggi yang ditetapkan Eko Yuli. Ketika standar itu tidak tercapai, dengan ketulusan lewat kata-kata dan bahasa tubuh, permintaan maaf disampaikan.

Kita tidak usah membandingkan permintaan maaf Eko Yuli ini dengan permintaan maaf para pejabat di negeri ini.

Apa yang dilakukan Eko Yuli dengan standar yang tinggi hanya contoh saja, bukan pembanding karena memang tidak sebanding.

Ungkapan atau pernyataan yang dinyatakan dengan ketulusan akan sampai dan dan mengena ke hati masyarakat secara tepat.

Ketulusan Eko Yuli tertangkap meskipun tidak berkata-kata sekalipun.

Saya selalu yakin, apa yang disampaikan dengan hati, akan sampai dan diterim oleh hati-hati yang lain.

Apa yang disampaikan dengan pikiran, akan sampai dan diterima oleh pikiran-pikiran yang lain.

Apa yang disampaikan dengan basa-basi, akan sampai dan diterima sebagai basa-basi juga.

Kita biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita berikan. Tidak lebih, bisa kurang, bahkan kerap tidak mendapatkan.