Pengembangan Energi

Kalsel Siapkan Rencana Pengembangan Energi Terbarukan Hasil Alam dan Limbah

hancau Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyiapkan rencana pengembangan energi terbarukan hasil alam dan limbah hingga tahun 2050 mendatang.

Kepala Dinas ESDM (Energi Sumber daya Mineral) Provinsi Kalsel Kelik Isharwanto melalui Kabid Energi Sutikno mengungkapkan, sebagaimana tertuang dalam Perda Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Rencana Umum Energi Daerah, pengembangan sumber daya energi terbarukan merupakan amanah Perda yang harus dilaksanakan oleh Pemprov Kalsel melalui Dinas ESDM.

“Diperkirakan pada 2035, sumber energi fosil tak dapat diandalkan lagi karena habis, karena itu sejak saat ini kita sudah melaksanakan pengembangan sumber energi terbarukan baik melalui limbah, tenaga air, angin dan surya,” katanya, dilansir dari kanal kalimantan, Senin (7/12/2020).

Saat ini ketersediaan energi di Kalsel, jelas Sutikno, sebesar 600 Megawatt yang utamanya ditopang melalui PLTA Riam Kanan dan PLTU Asam-asam. Ia menerangkan untuk jangka panjang 2050 nanti, pihaknya memproyeksikan dari hasil pengembangan sumber energi alam dan limbah yang mampu menghasilkan energi sebanyak 8,6 gigawatt.

“Untuk rencana jangka pendek tahun 2025, diproyeksikan Kalsel mampu memproduksi energi 2000 MW untuk mendukung kawasan industri. Seperti kawasan industri Jorong, Tanah Laut diproyeksikan 1000 MW, kawasan ekonomi khusus Mekar Putih Kotabaru 400 MW dan kawasan industri Batulicin sebesar 600 MW,” paparnya.

Pengembangan energi sumber daya terbarukan yang sudah direalisasikan saat ini, adalah pembukaan jaringan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di berbagai daerah terpencil di Kalsel. “Salah satunya di atas waduk Riam Kanan yang mampu menghasilkan energi 74,39 MW,” ujar Sutikno.

Tiga investor juga akan masuk untuk membangun pembangkit listrik tenaga bayu atau angin yang diproyeksikan mampu menghasilkan energi 820 MW dan 626 MW di daerah Tanah Laut. “Investor energi tenaga angin dari Amerika, Perancis dan satu lagi perusahaan milik Sandiaga Uno,” ujar Sutikno.

Dinas ESDM juga menggandeng 36 perusahaan kelapa sawit untuk pengembangan biogas dari limbah kelapa sawit yang masing-masing perusahaan bisa menghasilkan 1,2 MW hingga 2,4 MW. “Ada dua perusahaan yang telah melaksanakan yakni PT GMK dan PT Citra di Tanah Laut,” ungkap Sutikno.

Tak sampai disitu, Dinas ESDM Kalsel juga mengembangkan biogas dari kotoran sapi di berbagai daerah Kalsel dan biogas dari enceng gondok di HSS dan HSU. “Kita siapkan kotoran dari populasi sapi yang tersedia sebanyak 700 ribu populasi,” tambahnya.

Hasil pengembangan biogas tersebut kini di daerah Tanah Laut sudah ada kompos gas yang dinyalakan dari hasil pengolahan biogas kotoran sapi.

Kemudian pengembangan potensi biofuel dari potensi CPO 1,7 juta ton per tahun yang dihasilkan 36 Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) di Kalsel. Kemudian pengembangan biomassa dari fiber dan janjang kosong bekerjasama 36 PKS yang diproyeksikan mampu menghasil tenaga 1421 MW.

Bahkan Dinas ESDM juga sedang mengembangkan biogas dari kotoran manusia. “MoU pengembangan biogas kotoran manusia juga sudah ditandatangani oleh Gubernur Kalsel beberapa waktu lalu,” kata Sutikno.

Direncanakan juga akan dibangun Bendungan Riam Kiwa di Kabupaten Banjar dan Bendungan Sungai Kusan di Tanah Bumbu yang masing-masing diproyeksikan menghasilkan 2×30 MW.

Kemudian pengembangan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTB) di HSS dan HST yang diproyeksikan menghasilkan energi sebesar 50 MW. Terakhir pengembangan mini hydro di daerah pegunungan Meratus yang mampu menghasilkan 15,8 MW.

Editor: