Dengan Syukur, Kehidupan Kita Dapat Berujung Makmur

Oleh Aditya Akbar Hakim

Sebagai manusia, kita mesti bersyukur atas segala nikmat yang telah kita dapat. Jangan sampai malah kufur nikmat. Sebab, jika berani kufur, ancaman siksa telah siap menanti.

Menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur, jelas memberi peluang besar pada tercapainya kebahagiaan hidup, termasuk pada tercapainya rasa kenikmatan yang langgeng di dunia dan akhirat.

Ada satu ayat Alquran yang begitu kondang dan terkenal. Ayat tersebut kerap dicuplik oleh banyak orang. Bahkan, sebagian dari kita pun mungkin telah hafal. Ayat ini, poin pentingnya adalah tentang syukur.

dok – whyshouldislam.blogspot

“Jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur (nikmat-Ku), maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7).

Kenikmatan yang kita dapat itu niscaya akan terus-menerus bertambah (berkah) ketika syukur mengisi setiap sendi kehidupan. Bagi manusia yang bersyukur, bakal ada jaminan kemakmuran pada kehidupan dunia maupun akhirat. Inilah garansi yang telah dijanjikan oleh Allah SWT melalui surah Ibrahim ayat ketujuh tersebut.

Ajaran Islam menuntun penganutnya agar senantiasa bersyukur dalam menjalani kehidupan. Sebab, dengan hidup yang dipenuhi syukur, hidup kita pastinya akan makmur. Oleh sebab itu, tidak mungkin beroleh rasa syukur apabila nafsu menjadi panglima dalam setiap aktivitas kehidupan kita sehingga akal dikalahkan nafsu. Diri pun justru akan diperbudak oleh nafsu yang menghalangi bertambahnya kenikmatan.

Untuk itulah, syukur mesti dijadikan tolok ukur. Syukur juga dapat mengindikasikan kebahagiaan hidup. Maka, lurusnya niat sekaligus jernihnya pikiran akan berujung pada kebaikan amal. Tentunya, agar amal menjadi kebiasaan (habit) hidup, mesti dibimbing oleh suluh bernama syukur.

Karena satu yang pasti; apabila hidup tanpa syukur, niscaya hanya akan memberi peluang hidup tak mujur, alih-alih dapat mencecap makmur. Acap kali laku nirsyukur hanya akan memberikan peluang hancur, terutama hancurnya kehidupan yang kita jalani.

Puncaknya, hidup akan terasa penuh oleh aneka keluhan. Lalu dampaknya, mustahil ada kemakmuran apalagi rasa kebahagiaan. Hal ini tentu akibat laku syukur telah hilang dari pikiran, lebih-lebih dari perbuatan yang kita lakukan.

Sungguh tentang syukur ini, begitu gampang diucapkan. Namun, amat susah dilakukan. Tidak sembarang pribadi sanggup seirama antara mulut dan sikap. Betapa banyak yang piawai untuk bersyukur secara lisan, tapi nihil dalam tindakan.

Hal itu terjadi karena, siapa yang sanggup bersyukur, adalah mereka yang paham makna syukur. Paham bahwa syukur itu harus bersemayam dalam pikiran. Bukan sekadar yang tampak pada perbuatan. Karena, kata kunci untuk dapat bersyukur memang ada di situ. Dan dari sana, itulah kelak yang jadi penentu supaya dengan syukur, kehidupan kita dapat berujung makmur. Wallahu a’lam.

Editor: Ghaf

Editor: