olla ramlan

Kisah Seorang Mualaf Prancis yang Tersentuh Hatinya Dengan Alquran

BORNEO online, Jakarta – Hidayah menyentuh hati seorang mualaf asal Prancis melalui merdunya lantunan ayat suci Alquran. Dalam artikel yang diterbitkan di laman About Islam, dilansir Kamis (12/11), penulis Claudia Azizah menceritakan tentang kisah dan perjalanan seorang mualaf di negara asalnya di Prancis.

Sebut saja namanya Maryam, dia dibesarkan sebagai seorang Katolik dalam keluarga tradisional Prancis yang tinggal di Prancis Selatan. Ketika duduk di bangku sekolah menengah, Maryam memiliki teman satu kelas yang merupakan seorang gadis Muslim. Tidak ada yang ingin berteman dengannya. Karena itulah, Maryam merasa kasihan padanya.

Namun, orang tua Maryam mengajarinya untuk bersikap baik kepada semua orang, terlepas dari warna rambut atau kulit mereka, atau dari mana mereka berasal. Karena itulah, Maryam memutuskan untuk menjadi temannya. Teman Muslimnya itu pintar dan kerap membantunya ketika ia kesulitan dengan matematika.

Dua kali sepekan Maryam dan teman Muslimnya itu belajar di rumahnya. Suatu hari, ketika ia berumur 15 tahun, mereka tidak bisa belajar di rumahnya. Karena itu, Maryam diundang ke rumah teman Muslimnya tersebut. Ia belum pernah ke sana sebelumnya. Namun, Maryam ingat bahwa ia sangat senang bertemu dengan ibu temannya itu.

Teman Muslimnya tinggal di sebuah apartemen kecil, dan kebetulan ia tidak memiliki kamar tidur sendiri sehingga, mereka belajar di ruang tamu.

Maryam mengingat, bahwa ibu temannya itu begitu ramah dan menyiapkan sesuatu untuk mereka makan. Saat mereka belajar, Maryam melihat ibu temannya membaca dari sebuah buku di sudut lain ruangan. Meskipun sang ibu mencoba membaca dengan pelan, namun ia mendengar melodi yang indah.

Kala itu, Maryam bertanya kepada temannya apa yang sedang dilakukan ibunya. Dia menjawab bahwa ibunya tengah membaca Alquran, kitab suci umat Islam. Maryam terkejut lantaran ia tidak pernah mendengar orang membaca Alkitab dengan cara yang sama. Maryam kemudian meminta ibu temannya itu untuk duduk dekat mereka dan membacakan Alquran untuknya.

“Meskipun saya tidak mengerti sepatah katapun, saya sangat menikmati bacaannya. Anehnya, itu menyentuh hati saya,” ujar Maryam.

Sama halnya ketika ditanya bagaimana merasa mendengarkan bacaan Alquran begitu menawan ketika dibuat dalam bahasa Arab, seorang Profesor Madya Matematika di Universitas Kansas, Dr. Jeffrey Lang, yang menghabiskan 18 tahun pertama hidupnya di sekolah Katolik menjawab, “Mengapa seorang bayi terhibur oleh suara ibunya?”

Mulai saat itu, Maryam mencoba mengunjungi teman Muslimnya itu lebih sering, dan ibunya akan membacakan Alquran untuknya. Semakin ia mendengarkan ibu temannya membaca Alquran, semakin ia ingin mengetahui tentang agamanya.

Suatu hari, temannya itu bercerita tentang sholat lima waktu. Maryam terkejut mengetahui bahwa dia beribadah kepada Tuhannya lima kali sehari. Sebab, sebelumnya ia hanya mengetahui bagaimana beribadah seperti orang Kristen. Karena ingin melihat temannya beribadah, mereka pun mengizinkan Maryam untuk mengamatinya.

“Mengamati dia membungkuk kepada Tuhan dengan cara yang begitu indah menanamkan benih Islam di hati saya,” ujarnya.

Maryam kemudian bertanya apakah ia boleh bergabung dengannya dalam sholat. Tanpa memintanya harus menjadi Muslim lebih dahulu, mereka mengajaknya untuk bergabung dalam sholat dengan mereka. Bersama teman Muslim dan ibunya itu, ia beribadah di ruang tamu di apartemen mereka. Saat itu, Maryam berusia 16 tahun.

Meskipun belum resmi masuk Islam pada saat itu, namun menjalankan gerakan sholat telah menjadi kebiasaannya. Namun, ia masih menyembunyikannya dari keluarganya karena ia khawatir mereka tidak akan menyetujuinya. Teman Muslimnya dan ibunya itu pun tidak pernah mendorongnya untuk menjadi Muslim.

Setelah ia menyelesaikan sekolah menengah, ia pindah ke Paris untuk menempuh studi di universitas. Masa di universitas itulah menjadi langkah besar dan perubahan dalam hidupnya.

Ia memilih untuk belajar sejarah dan bahasa Arab, karena ia ingin belajar bahasa dalam bacaan Alquran yang indah. Ketertarikannya pada Islam pun tumbuh, dan ia mulai membaca lebih banyak tentang agama Islam. Ia juga melanjutkan kebiasaannya mengikuti gerakan sholat.

“Semakin banyak saya belajar tentang Islam, semakin saya merasakan keinginan yang tumbuh di hati saya untuk menjadi Muslim. Kira-kira 10 tahun setelah saya pertama kali mendengar ibu Maryam membaca Alquran, saya memeluk Islam. Itu hampir 15 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Butuh waktu yang lama sebelum akhirnya Maryam memberi tahu keluarganya bahwa ia telah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika ia akhirnya memberi tahu keluarganya, mereka terkejut.

Sayangnya, keputusannya menjadi mualaf itu membuat hubungannya dengan keluarganya tegang. Selama beberapa tahun, ia berupaya keras untuk tetap berhubungan dengan mereka karena mereka tidak ingin melihatnya.

“Alhamdulillah, dengan kesabaran, niat baik, dan pertolongan Tuhan, saya dapat meyakinkan mereka bahwa saya tidak menjadi teroris dan bahwa saya masih anggota yang baik dalam masyarakat Prancis kami,” katanya.

Mualaf ini kini bekerja dengan pemerintah Prancis. Meskipun ia tidak bisa memakai kerudungnya di tempat kerja, ia memakainya selama waktu luang.

Setelah dipromosikan beberapa kali, ia kini memiliki kantor sendiri di mana ia dapat beribadah. Sebelumnya, sulit baginya untuk menunaikan sholat lima waktu, dan berkali-kali ia harus menggantinya saat pulang kerja.

“Tetapi saya mengalami bahwa Tuhan membuka pintu jika kita gigih dan memiliki niat yang benar,” tambahnya.

.

republika

Editor: