Ketika Alami Musibah dan Kegundahan, Nabi Lakukan Ini

BORNEO online – Manusia tidak akan bisa lepas dari ujian maupun musibah. Namun patut kita renungkan bahwa selalu ada himah di balik setiap musibah. Bisa jadi musibah adalah suatu kesedihan, namun terkadang pula ia adalah ketenteraman. Barangsiapa mengimaninya maka ia akan bersabar di atasnya namun barangsiapa mencelanya maka ia akan menjadi malapetaka dalam kehidupan.

Dalam sebuah syair disebutkan, “Terkadang melalui cobaan, Allah memberikan kenikmatannya betapa pun besarnya cobaan tersebut. Namun terkadang melalui kenikmatan, Allah justru memberikan ujiannya terhadap kaum tertentu…”

Dalam Siyar a’lamin nubala’ (11/255) dikisahkan ketika cambukan keempat menghantam tubuh Imam Ahmad bin Hanbal, beliau ra mengucapkan:

قُل لَّنْ يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami..” (QS. At-Taubah: 51).

Abu Ja’far Muhammad bin Badina al-Maushili mengatakan:

أنشدني ابن أعين في أحمد بن حنبل: أضحى ابن حنبل محنة مأمونة

Ibnu A’yan bersenandung kepadaku tentang Ahmad bin Hanbal: “Ibnu Hanbal telah mengubah ujian menjadi ketenteraman…” (Tarikh Dimasyq, 5/323)

Sebuah musibah akan menjadi sahabat bagi orang beriman, namun bagi mereka yang lalai musibah akan menjadi malapetaka penghancur segala kelezatan dalam hidupnya, ia adalah sebuah peringatan agar kita selalu teringat untuk menengadah ke langit. Allah SWT berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit..” (QS. Al-Baqarah: 144)

Dari Ummu Salamah ra, beliau menceritakan:

ما خرج النبي صلى الله عليه وسلم من بيتي قط إلا رفع طرفه إلى السماء

“Setiap kali Rasulullah SAW keluar dari rumahku, beliau mengarahkan pandangannya ke langit..” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 5094)

Langit yang begitu cerah hari ini seakan berkata wahai hamba Allah yang shalih ucapkanlah rasa syukurmu di pagi hari ini, di bulan ini, di tahun ini. Ceraikanlah segala kegundahan dalam hidup mintalah permohonan nan tulus kepadaNya. Dari Abu Hurairah ra, beliau mengatakan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أهمه الأمر، رفع رأسه إلى السماء فقال: سبحان اللّه العظيم. وإذا اجتهد في الدعاء، قال: يا حيُّ يا قيومُ

“Apabila Rasulullah SAW mengalami kegundahan karena suatu hal, beliau memandang ke arah langit sambil berkata, ‘Subhanallahil Azhim’. Namun apabila beliau bersungguh-sungguh sekali dalam doanya, beliau mengucapkan, ‘Ya Hayyu Ya Qayyum’.” (HR. At-Tirmidzi, Syaikh al-Albani mengatakan “Dha’if Jiddan” dalam adh-Dha’ifah no. 6345)

Ada beberapa cara guna mengobati penyakit musibah, salah satu resep paling mujarab adalah sebagaimana yg disampaikan oleh sang dokter hati Ibnu Qoyyim ra seraya berkata:

“Kiat untuk mengobati penyakit musibah adalah dengan menyadari bahwa kepahitan dunia itu sendiri adalah kemanisan untuk akhirat. Demikianlah Allah membolak-balikkan keduanya, kemanisan dunia justru akan menjadi kepahitan akhirat. Beralih dari kepahitan yang terbatas menuju kemanisan yang abadi itu lebih baik daripada kebalikannya…” (Zadul Ma’ad, 4/179]).

Dan surga adalah suatu kesudahan terindah bagi orang-orang beriman, dan seburuk-buruk kesudahan adalah jahannam. Betapa indah gambaran Rasulullah SAW mengenai sifat surga dan neraka seraya bersabda:

حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات

“Surga itu ditopang dengan hal-hal yang dibenci oleh nafsu, sementara Neraka itu ditopang dengan hal-hal yang disukai oleh syahwat..” (HR. Muslim)

Imam Ibnul Qayyim ra menjelaskan maksud hadits tersebut, beliau mengatakan:

وفي هذا المقام تفاوتت عقول الخلائق ، وظهرت حقائق الرجال فأكثرهم آثر الحلاوة المنقطعة على الحلاوة الدائمة التي لا تزول ، ولم يحتمل مرارة ساعة لحلاوة الأبد ، ولا ذل ساعة لعز الأبد ، ولا محنة ساعة لعافية الأبد ، فإن الحاضر عنده شهادة ، والمنتظر غيب ، والإيمان ضعيف ، وسلطان الشهوة حاكم ، فتولد من ذلك إيثار العاجلة ، ورفض الآخرة

“Untuk memahami konteks ini, akal manusia memang bertingkat-tingkat, dan demi memahaminya terkuaklah hakikat seorang manusia sejati. Kebanyakan orang lebih mendahulukan kenikmatan sementara daripada kebahagiaan abadi yang tak pernah terputus, sehingga mereka tidak mampu menahan kepahitan sejenak demi kenikmatan selamanya, menghinakan diri sebentar demi kemuliaan abadi, atau menahan cobaan sesaat demi keselamatan tak terbatas. Karena yang tampak oleh mata itulah yang ada menurut mereka, sementara yang akan datang hanyalah fatamorgana. Karena keimanan mereka sudah lemah dan syahwat sudah sedemikian menguasai diri mereka. Dari situlah lahir kecenderungan mendahulukan kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat..” (Zadul Ma’ad, 4/179-180)

Apabila kita mendapati suatu takdir yang tidak kita sukai, maka pahamilah bahwa Allah telah menakdirkan hal tersebut sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi, dan tugas kita adalah beriman kepada takdir yang baik maupun takdir yang buruk, serta meyakini dengan sepenuhnya bahwa Allah azza wa jalla adalah Dzat yang Maha Adil dan tidak mungkin menzalimi hamba-hamba-Nya..

إِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas..” (QS. Az-Zumar: 10)

Kemenangan diraih dengan jerih payah, kalaulah tanpa adanya jerih payah maka tak akan ada prestasi yang diraih, maka hidup akan hampa ia bagaikan tetesan lilin terbakar meleleh menjadi kaku, atau ia laksana dupa terbakar menghasilkan debu tertiup angin tiada arti. Hidup akan indah saat tercium harum laksana wangi gaharu walau ia tak rupawan namun ia menyimpan aroma nan tersimpan dalam ketenangan. []

.

Sumber : Islampos/AlQur’anSunnah

Editor: