Maksiat Hati dan Mengapa 7 Anggota Tubuh Penting Dijaga

BORNEO online, Jakarta – Yang cukup menarik dari kitab Syekh Shaleh bin Mathran Ba Ma’bad, Ad-Dalalatun Nafi’ah ‘Ala Ma’ani Ar-Risalatul Jami’ah Wa Tadzkiratun Nafi’ah, yang merupakan syarah dari ar-Risalah al-Jami’ah karangan al-Allamah al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi adalah uraiannya tentang keutamaan menjaga hati dari maksiat.

Berangkat dari pembacaannya atas kitab Ar-Risalah al-Jamiah, ia berpandangan, seorang Muslim wajib memelihara hatinya dari kecenderungan pada maksiat. Ia mengutip suatu sabda Nabi Muhammad SAW:

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ “Sesungguhnya, di dalam badan ini terdapat sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh ba dan, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Sesungguhnya, ia adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Di antara maksiat hati yang harus dihindari adalah meragukan keberadaan Allah. Tak cukup itu, seorang mukmin hendaknya jauh dari perasaan aman dari makar Allah, putus asa dari rahmat- Nya, dan apalagi sombong di antara sesama hamba Allah.

Maksiat hati lainnya yang mesti diwaspadai ialah ujub alias berbangga diri. Kemudian, dengki, terbiasa bermaksiat, berprasangka buruk kepada Allah, serta mengecilkan sesuatu yang besar dalam pandangan Allah.

Syarah ini juga menegaskan, seorang mukmin wajib menjaga tujuh anggota badannya, yakni perut, lisan, mata, telinga, tangan, kaki, dan kemaluan. Semuanya harus dijaga agar tidak melakukan maksiat.

Syekh Shaleh menukil nasihat dari Al-Imam Abdullah bin Alwi al Hadda, “Sesuatu yang terpenting bagi seorang yang beriman adalah mewas padai hati dan anggota badannya serta merawat keduanya. Bersungguh-sungguh dalam menjaga keduanya dan mencegahnya dari hal-hal yang dimurkai dan dibenci Allah, dan memfungsikan keduanya untuk hal-hal yang disukai dan diridhai Allah.”

Mengapa tujuh anggota badan itu menjadi sorotan? Sebab, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, ingatlah surat al-Isra ayat 36:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu kelak akan ditanya (di pertanggungjawabkan). Begitu pula dengan surat an- Nur ayat 24:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Penulis menyinggung, umpamanya, ihwal maksiat perut. Menurut dia, di antara perbuatan yang tergolong demikian adalah memakan harta riba. Allah dan rasul-Nya melaknat pemakan harta riba. Siapa pun yang mendukung seseorang untuk memakan harta riba juga akan tertimpa laknat.

Editor: Ghaf

Republika

Editor: